Dialog Shema Israel, Maimonides, dan Teologi Kristen
Sinopsis
“Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Pernyataan dalam Shema Israel ini bukan sekadar rumusan iman, melainkan sebuah deklarasi yang telah menjadi fondasi penting bagi cara Israel memahami siapa Allah dan bagaimana manusia harus hidup di hadapan-Nya. Pengakuan bahwa Allah itu esa menegaskan keunikan, keutuhan, dan ketakterbandingan Allah di tengah dunia kuno yang dipenuhi berbagai dewa dan sistem keagamaan. Dari sinilah pergumulan mengenai monoteisme memperoleh tempat yang sangat penting dalam sejarah iman.
Menjaga Keesaan: Dialog Shema Israel, Maimonides, dan Teologi Kristen mengajak pembaca menyelusuri perjalanan panjang pemikiran tentang Allah yang esa, mulai dari kesaksian Shema Israel, perkembangan monoteisme dalam sejarah Israel, hingga refleksi filosofis dan teologis Moses Maimonides. Maimonides tampil sebagai salah satu pemikir Yahudi yang paling serius dalam menjaga kemurnian gagasan tentang keesaan Allah. Baginya, berbicara tentang Allah tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti berbicara tentang makhluk, sebab Allah tidak dapat ditempatkan dalam kategori-kategori manusiawi.
Percakapan kemudian diperluas ke dalam tradisi Kristen. Bagaimana iman kepada satu Allah dipahami ketika gereja merumuskan bahasa teologisnya tentang Allah? Bagaimana gereja menjaga pengakuan monoteistiknya di tengah perkembangan doktrin dan bahasa teologi yang kompleks? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa pembaca kepada sejarah, filsafat, dan pergumulan gereja dalam mempertahankan pengakuan bahwa Allah tetap satu dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya.
Buku ini tidak bermaksud memperhadapkan tradisi Yahudi dan Kristen secara polemis. Sebaliknya, dialog dengan Shema Israel dan pemikiran Maimonides menjadi kesempatan untuk kembali memeriksa kejernihan iman monoteistik dan cara manusia berbicara tentang Allah. Di tengah dunia modern yang kembali memperlihatkan beragam bentuk spiritualitas, pluralitas keagamaan, dan pencarian akan makna ilahi, pertanyaan mengenai keesaan Allah tetap memiliki relevansi yang mendalam.
Pada akhirnya, Menjaga Keesaan adalah sebuah undangan untuk kembali kepada pertanyaan paling mendasar dalam iman: Apa artinya mengatakan bahwa Allah itu esa? Siapakah Allah yang diakui sebagai satu-satunya Allah? Dan bagaimana pengakuan terhadap Allah yang esa membentuk cara manusia memahami iman, kehidupan, dan relasinya dengan sesama? Melalui dialog antara Shema Israel, Maimonides, dan teologi Kristen, buku ini mengajak pembaca menemukan kembali bahwa pengakuan “Allah itu esa” bukan sekadar doktrin, melainkan pusat dari sebuah cara hidup di hadapan Allah.
|
Penulis |
: |
Dr. Henky Johansja |
|
Penerbit |
: |
Sehati |
|
Cetakan |
: |
Pertama, 2026 |
|
ISBN |
: |
|
|
Tebal |
: |
Viii + 204 halaman |
|
Bahasa |
: |
Indonesia |
|
Ukuran |
: |
14,8 x 21 cm |